Kapan Harus Berhenti?

Beberapa waktu yang lalu, para anggota milis Dunia Wirausaha sempat membahas sebuah topik yang cukup menarik bagi yang sedang menekuni sebuah bisnis atau bahkan baru berencana akan memulai, yaitu tentang kapan kita memutuskan untuk berhenti dari bisnis yang kita jalani?

Alasan-alasan seperti apa sajakah yang akhirnya bisa membuat kita memberhentikan bisnis yang sedang dijalani?

Berikut adalah beberapa masukan dari para anggota milis Dunia Wirausaha:

Modal
Berhubungan dengan modal usahaPenjualan menurun sementara modal habis dan tidak ada lagi yang mau menanam modal.Biaya operasional membengkak terlalu cepat, sementara pertambahan konsumen tidak secepat itu (misalnya karena salah milih lokasi, kemungkinan masih bisa dialihkan ke tempat lain). intinya: Cashflow Negatif to your Balance Sheet.

Saingan
Saingan yang semakin banyak.Kalah bersaing.

Alasan Lain
Alasan personal/spiritual -- manusia berubah dari waktu ke waktu.Kehabisan ide pengembangan bisnis. Yang paling mungkin dilakukan adalah menciptakan kategori baru dari kategori bisnis yg kita punya, differensiasi. Bila sudah tidak ada ide, sebaiknya tutup saja dan membuat kategori yang benar-benar baru yang mungkin tidak bersentuhan dengan bisnis sebelumnya. Alias, saat kreatifitas akan bisnis tersebut macet.

Ada yang menyarankan, dalam mengasah kreatifitas ttg differensiasi ini, kita bisa pula mengikuti berbagai seminar termasuk seminarnya Purdi E. Chandra -- pemilik PRIMAGAMA yang berkeinginan untuk menciptakan 1000 Entrepreneur melalui sekolahnya.

Prospek Bisnis
Jika bisa menilai prospek bisnis tersebut beberapa tahun ke depan tidak akan bagus, misalnya adanya teknologi baru. Contoh: konsumen beralih ke produk kamera film ke digital, dari kasur kapuk ke springbed.

Selain rangkuman hasil diskusi diatas, salah seorang anggota milis Dunia Wirausaha juga mencantumkan sebuah artikel tentang Lima Tanda Untuk Menutup Usaha Anda yang ternyata informasinya lebih kurang sama dengan berbagai masukan diatas.

Berikut lima tanda peringatan untuk mengubah arah secara drastis atau menutup usaha anda.

1. Ratio debt-to-asset menanjak. Bisnis biasanya meminjam dana untuk membeli alat, kantor dan aset lainnya. Tidak apa-apa. Namun bila utang sebagai persentase aset meningkat, mungkin Anda akan terus melaju ke bawah. Kebanyakan konsultan bisnis menilai ada sesuatu yang mengkhawatirkan bila ratio debt-to-asset berada di atas 50%.

2. Anda merugi dan ruginya terus bertambah. Biasanya bisnis merugi selama beberapa tahun awal dalam menghadapi persaingan. Namun, bila rugi terus meningkat, pastikan apakah bisnis ini akan dapat membayar kerugian sebesar itu. Jangan percaya bujukan apa pun bila memang secara realitas bisnis itu merugi.

3. Stok tertahan terlalu lama. Bila usaha Anda adalah menjual produk dan stok sangat lambat habisnya, ini suatu indikasi bisnis kurang baik.

4. Anda tidak mampu mengadakan dana tambahan untuk menutupi kerugian usaha. Pada bank konvensional biasanya ada cerita bahwa suatu bisnis yang sedang-sedang ternyata permohonan yang ditolak pada saat pembaharuan kredit. Bank tidak peduli. Yang penting apakah bisnis Anda mampu atau tidak membayar kewajiban.

Mungkin ada bank yang baik "budi" yang memberitahukan bahwa bisnis Anda kurang baik. Bank yang baik biasanya menjaga kreditur. Mungkin injeksi darah segar perlu bila Anda rasa hal ini hanya untuk sementara.

5. Kebahagiaan Anda sudah hilang. Kebahagiaan adalah sesuatu yang serius. Seharusnya Anda bahagia dengan bisnis Anda. Bila setelah bangun tidur di pagi hari Anda merasa malas untuk berusaha ke kantor/tempat bisnis Anda, berarti waktunya sudah tiba bagi Anda memikirkan untuk menutup bisnis tersebut. Setidaktidaknya Anda akan masih beruntung karena kesehatan jiwa Anda masih normal - hal yang tidak dapat dinilai dengan uang seberapa pun. (KTA)

Labels: