Sudahkan Anda Mengerti Dengan Kalimat "Uang Bekerja Untuk Kita"?

Apa yg bisa dikerjakan oleh uang untuk kita?

Bukankah kita hanya berhak menerima sebesar berapa yg kita korbankan?

Dari pertanyaan-pertanyaan simple diatas ternyata menghasilkan banyak jawaban dan pendapat saat diskusi topik ini berlangsung di Milis Dunia Wirausaha beberapa waktu yang lalu.
Ada yang berpendapat bahwa uang bekerja untuk kita adalah "kita meminjamkan atau mengeluarkan uang dan kemudian mendapatkan bunga". Ada pula yang beranggapan, uang bekerja untuk kita adalah berarti memiliki bisnis sendiri, betulkah tanggung jawabnya lebih berat? Untuk menjadi pemilik tentunya harus ada sistem yang 'canggih' begitu pula harus ada hal-hal lain yang difikirkan seperti kesejahteraan karyawan.

Berikut ini adalah pendapat beberapa anggota Milis Dunia Wirausaha menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Hal ini bisa sesimple:
Saat kita menanam modal untuk mempunyai warung misalnya dengan menyewa seorang penjaga warung yang menyetor uang setiap malam atau seminggu sekali atau sebulan sekali. Kita sebagai empunya warung tidak pernah berada di warung tersebut setiap harinya.
Jadi singkat kata, kita tidak perlu bekerja untuk mendapatkan uang masukan hasil penjualan warung tersebut.

Tetapi uang modal yang kita tanamkan di warung tersebut telah bekerja sendiri, telah menghasilkan pendapatan untuk kita. In short, seperti yang dimaksud oleh Kiyosaki adalah kita punya bisnis sendiri.

Yang lain juga berpendapat yang sama, uang bekerja untuk kita bukan pula berarti tanpa pengorbanan, dalam arti, kita mendapatkan sebesar yang kita "korbankan" (baca: modal awal), ditambah dengan jungkir balik, memuutar otak, supaya bisnis kecil yang kita buat dapat berkembang.

Ada pula yang memberi masukan sebagai berikut: Kata kunci biarkan uang bekerja untuk kita adalah pada sistem. Bangun sebuah sistem yang kokoh kemudian tinggalkan dan biarkan sistem itu yang bekerja untuk kita. Contoh nyata dari sebuah sistem yang berhasil adalah ketika sistem tersebut tidak perlu campur tangan si pemiliknya. Si pemilik pergi jalan-jalan enam bulan misalnya meninggalkan perusahaannya tapi perusahaan itu tetap berjalan karena sistemnya sudah berhasil dibangun.

Di dalam buku Cashflow Quadrant -- buku berikutnya dari Kiyosaki setelah Rich Dad Poor Dad -- ada salah satu cerita yang menarik tentang pembangunan sistem:
Pada suatu ketika di sebuah desa terjadi kekeringan air. Air hanya bisa diperoleh di sebuah sungai yang berlokasi cukup jauh. Akhirnya kepala desa memutuskan diadakan proyek pengadaan air. Kemudian muncul dua perusahaan yang bersedia melaksanakan proyek itu. Keesokan harinya, perusahaan A langsung dengan giat bekerja menyediakan air bagi penduduk dengan ember yang setiap hari diangkut dari sungai ke lokasi desa penduduk. Perusahaan B menghilang entah kemana. Perusahan A hanya tertawa melihat perusahaan B hilang entah kemana. "Tak ada saingan," pikirnya. Akhirnya perusahaan A pun berkembang dengan pesat, bahkan anak-anaknya turut serta membantu bisnis pengangkuta air bagi penduduk. Enam bulan kemudian perusahaan B kembali.

Ternyata perusahaan B tidak menghilang begitu saja, namun selama ini perusahaan B merencanakan untuk pembangunan sistem pipa air minum langsung dari sungai ke desa penduduk. Ahli - ahli yang sesuai dengan bidangnya masing-masing berdatangan desa untuk pembangunan pipa tersebut. Air menjadi lancar, lebih murah, lebih bersih. Di akhir cerita Perusahaan A pun akhirnya mati bersaing dengan perusahaan B. Perusahaan B menang karena sistem yang dikelolanya bisa bekerja dengan lebih baik, manajemen lebih tertangani, kualitas pun meningkat.

Kesimpulan dari cerita tersebut:
ada kalanya pembangunan sebuah sistem memerlukan pengorbanan yang tepat, pengorbanan bisa apapun, waktu, uang, bahkan bisa jadi ego kita sendiri, namun hasil akhirnya adalah sistem itu dapat bekerja untuk kita. Tentunya dengan analisis yang tepat sejak awal.

Apabila Anda diberi pertanyaan, akan menjadi perusahaan yang mana, A atau B? Ternyata jawaban pun tidak mutlak..

Ada yang mengambil 'alternatif' sebagai berikut:
Memilih menjadi Perusahaan A dulu dan segera berbenah menjadi perusahaan B. Alias, ambil dulu yang kecil dan terus berbenah untuk membentuk usaha yang memiliki sistem.
Menjadi perusahaan A berarti lebih cepat merasakan hasilnya, walau akhirnya tidak berlangsung lama. Sedangkan untuk menjadi perusahaa B, akan butuh modal jauh lebih besar, untuk hasil yang jauh lebih banyak dan berlangsung jauh lebih lama..

Analogi lainnya:
Jika kita mengejar uang "HOW"-nya adalah kita langsung bekerja ke sumber dan membawa "uang" tersebut ke rumah kita, ini butuh energi dan bersifat terbatas. Tetapi kalau kita mencoba memasang "Pipa-Pipa " dari Sumber "uang" tersebut menuju rumah kita dan tetap menjaga agar pipa-pipa tsb tetap kokoh -- disitulah istilah uang bekerja untuk kita akan terjadi.
Jadi tidak sepenuhnya kita "tidak bekerja" karena tetap kita harus menjaga pipa-pipa tersebut tetap kokoh dan juga harus jeli melihat sumber-sumber "uang" yg baru dan memasang pipa disana menuju rumah kita. Bedanya, dengan memiliki pipa-pipa ini kita lebih menghemat energi kita dan hasilnya juga lebih maksimal dibanding asumsi pertama.

Menurut anggota Milis Dunia Wirausaha, definisi uang disini bisa berupa Cash, Piutang, Intelectual Property, Fixed Asset dll. Sayangnya sebagian dari kita baru memahami bahwa Uang = Cash.

Kita bisa menggunakan uang/asset kita untuk menghasilkan Cash Flow positif (uang bekerja untuk kita) dengan menggunakan Sumber Daya Kita, misalnya:

Broker: menjual informasi tentang suatu produk tidak berdasarkan Single out transaction tetapi multiple of income. Contoh : Future Broker Representative (sales) mendapatkan klien utk perusahaan Broker Future. Dia akan memperoleh income selama si klien bertransaksi di perusahaan Broker tersebut.

Penulis: dia tidak menjual buku tapi menjual intellectual propertynya

Banker/Tengkulak : menjual uang cashnya sebagai Piutang

So, how do we start?
Banyak saran yang dikemukakan oleh para anggota Milis Dunia Wirausaha:
Belajar dari sekolah dalam arti sebenarnya (pendidikan formal). SMP, SMA, kuliah. Di kuliah banyak ilmu - ilmu baru, banyak kenalan, banyak kegiatan mahasiswa yang bisa diikuti. Dari semua ini kita belajar ilmu - ilmu baru yang membantu penyelesaian masalah di masyarakat, dari sekolah kita mendapat jaringan dengan teman - teman, angkatan atas yang sudah senior dan sudah sukses, dosen, dari kegiatan mahasiswa kita mendapat latihan, simulasi sebenarnya untuk membangun bisnis seperti pengelolaan SDM, manajemen waktu, manajemen uang, marketing, dll. Ada benarnya juga orang yang berkata pendidikan yang membebaskan.

Belajar lewat M.LM. M.LM adalah sekolah bisnis yang bagus. Kita belajar dengan teori, praktek dan ada mentor yang selalu membantu kita menyelesaikan masalah. Seorang member M.LM yang sukses bisa dipastikan mau membantu para downlinenya. Kenapa? Karena dengan begitu mereka membantu diri mereka sendiri, semakin banyak downline tentu semakin banyak uang yang mengalir bukan?

Ada pendapat yang menarik yaitu M.LM bukan bisnis yang baik, tapi dari sana anda bisa banyak belajar. ML.M mengajarkan konsep tolong diri anda sendiri dengan menolong orang lain melalui :
Jaringan yang sudah terbangun Sistem yang sudah terbukti sukses Edukasi pendidikan bisnis lewat pelatihan - pelatihan Melatih mental bisnis

Orang yang sudah sukses di M.LM biasanya lebih mudah melaksanakan bisnis. Buat yang masih ingin belajar banyak tentang bisnis, M.LM bisa menjadi salah satu alternatif.

Kerja keras dengan step-step seperti perusahaan A. Di Indonesia banyak perusahaan - perusahaan lokal yang eksis berhasil menjadi ciri khas suatu daerah. Perusahana pembuat oleh-oleh misalnya. Tapi pernah kah terfikir berapa puluh tahun yang mereka butuhkan untuk membangun sebuah sistem itu? Majalah SWA, pernah membahas hal ini dimana di Indonesia banyak yang seperti perusahaan A karena bisa dibilang lebih mudah diikuti dan tidak perlu berpikir terlalu banyak.

Tapi kata kunci dari semua ini adalah selalu belajar dan terus belajar. How to start ? Belajar dan terus belajar.

Terus memperkaya diri dengan ilmu tentunya sambil terus melek financial. Sehingga,
pada suatu saat kesempatan datang, kita menyadarinya dan take the best of it. Terkadang kesempatan usaha itu berseliweran di depan mata tapi kalau kita tidak terlatih untuk melihatnya ya, kita cenderung diam dan merasa tidak punya kesempatan bisnis.
Seperti istilah Kiyosaki; sooner or later anda akan mendapatkan jalan untuk keluar dari perlombaan tikus ini...

Jadi sekali lagi, kata kunci dari semua ini adalah selalu belajar dan terus belajar. How to start ? Belajar dan terus belajar.

Labels: