Sharing Profit

Bekerjasama dengan seorang partner bisnis dalam hal permodalan adalah hal yang biasa dalam dunia wirausaha. Anda bisa menanamkan modal dengan jumlah yang sama namun bisa juga berbeda, begitu pula dalam hal lingkup pekerjaan. Perbedaan-perbedaan ini akan menyebabkan pembagian keuntungan bersih yang berbeda pula. Asalkan hal ini sudah disepakati dari awal dan lebih baik lagi bila tertulis dalam sebuah perjanjian, bukanlah masalah.

Seorang anggota Milis Dunia Wirausaha kebetulan mengalami kondisi yang sesuai dengan paragraf diatas. Kerabat dekatnya mempunyai keahlian memasak namun tidak punya modal untuk membuat rumah makan.

Bagaimanakah pembagian profit yang sebaiknya dibicarakan dari awal apabila ia akan mengeluarkan modal untuk bisnis rumah makan tersebut?

Beberapa masukan dari anggota Milis Dunia Wirausaha terangkum berikut ini:

-Harus disepakati kedua belah pihak berdasarkan hak dan kewajiban serta tanggung jawab masing-masing.

-Tergantung pada kondisi. Umumnya, pelaksana: pemodal = 60 : 40 atau 70 : 30, tergantung kondisi dan kesepakatan awal.

-Sikon ini juga bisa tergantung nilai tawar masing-masing. Biasanya setelah berjalan, pelaksananya yang akan memiliki nilai tawar, apalagi jika rumah makannya laris. Bisa saja ia tawarkan keahliannya ke orang lain. Nah, dalam posisi seperti ini ia bisa saja menaikkan prosentase bagiannya.

-Perlu dibuat perjanjian tertulis mengenai hak dankewajiban antara pemilik modal dengan pelaksana walaupun degan kerabat dekat.

-Ada yang berpendapat bahwa bisnis dengan kerabat sendiri, harus lebih jelas segala sesuatunya, karena apabila terjadi kesalahpahaman dapat merujuk pada kesepakatan perjanjian sebelumnya agar tidak merusak tali kekerabatan. Berbeda dengan bila kita menggaji orang yang dapat kita putus sewaktu-waktu.

-Disisi lain, ada pula alternatif lain yang mengusulkan untuk menggaji saja kerabat tersebut bila ia setuju tentunya.


artikel terkait:
Partner Bisnis
http://www.bundainbiz.com/2005/07/partner-bisnis.html

Labels: