Why People Failed In Network Marketing, Part II

***
"You can't change from a negative mindset to a positive mindset without changing from negative talking to positive talking. To do that, you must change the input from negative to positive."
:::.Shad Helmstetter, Ph.D.::::
***

Masih ingat dengan artikel yang ditulis oleh Dini Shanti mengenai Mengapa Orang gagal Di Bisnis Network Marketing?

Ketika artikel ini menjadi topik diskusi di Milis Dunia Wirausaha beberapa waktu yang lalu, ternyata sangat banyak tanggapan yang masuk. Berikut ini kami telah pilih dan rangkum beberapa tanggapan menarik yang masih berkaitan dengan topik Mengapa Orang Gagal Di Bisnis Network Marketing, yang kemudian berkembang menjadi bahasan Kegagalan Bisnis pada umumnya, beberapa usulan dan bahkan contoh pengalaman.

Terima kasih pada para DWers atas sharing pengalamannya.

Semoga Anda juga ikut dapat menarik hikmah dari diskusi seru di Milis Dunia Wirausaha yang berikut ini:

Banyak faktor mengapa dan bagaimana orang berhenti dari bisnis, dan lebih mencari 'keamanan' dan 'kenyamanan'.

Saya punya temen, kisah nyata, dari keluarga pebisnis walopun di kuadran S, semenjak kuliah, sudah memenuhi kebutuhan sendiri dengan berjualan catering, jualan pakaian, dsb., sangat mandiri lah pokoknya,lulus kuliah, langsung terjun di bisnis di Bandung dengan membuat tim, dan karena punya jam terbang paling tinggi, dia yang menangani bisnis tersebut secara langsung. Yang lainnya, menganggap hal itu sambilan, jadi pada
kerja kantoran, karena kuat di nilai modal investasi.

Sementara temen, yang jadi eksekutif bisnis, cuma punya modal tenaga. Pada tahun2 awal sukses, nggak ada masalah. masuk tahun ketiga, berencana ekspansi dengan bantuan pinjaman bank. dan Gagal. Ketika "tim pencari emas tidak menemukan emasnya, dan didera hujan dan badai, maka mereka tunggang langgang menyelamatkan diri masing-masing".

Temen tersebut menanggung hutang sendirian, cara yang aman adalah mencari pekerjaan kantoran, sampai hijrah ke kota lain, untuk melunasi hutang2nya. setelah lunas, akhirnya kembali lagi, menikah, dan menderita business-phobia yang teramat akut. Selalu sinis jika diajak bicara bisnis, teamwork, financial-freedom dsb....

Bagi saya, hikmahnya, saya yakin dengan bisnis yang saya rintis,tapi cerita di atas juga membuat saya selalu mawas diri. Mungkin saja 5 atau 10 tahun yad, saya adalah teman saya itu. (MAA)


terima kasih sharing nya, saya rasa ini bisa jadi masukan bagus untuk kita semua... seperti di tulisan saya, kita belajar dari kesalahan, dan bisa jadi itu kesalahan orang lain.. pengalaman adalah guru yang paling baik...

dari cerita ini bisa kita ambil pelajaran sbb:
- perencanaan bisnis yang matang
- pemilihan partner yang lebih selektif

cerita dari saya:
bapak saya adalah pebisnis sejati dari dia masih muda.. pas saya pertama kali masuk dunia kerja, sayatidakbisa ngerti banget pekerjaan seorang pelaku bisnis. karena buanyak nya hutang..kalau di tanya, pa, kok punya utang banyak banget sih? dia jawabnya:tidak ada pelaku bisnis yang tidak berhutang...wah aku sendiri tidak tau deh bener nya statement itu dalam masa sekarang..

tapi intinya, menurut papa saya, orang bisnis itu tidak harus menggunakan dana pribadi dan harus bisa mengelola hutang bisnisnya dengan baik...apa ini artinya gali lobang tutup lobang?
who knows.. ntar tak tanyain papa deh hehe...(D)

Kalau boleh nambahin, stamina mental yang kuat dan tahan banting, apalage pada saat2 tertentu bisnis dan ini sering, butuh konsentrasi super, apalagi bisnis punya dinamika yang luar biasa. Meminjam kata2 Al Pacino di Heat, business is "Disaster Zone", bukan zona nyaman, pulang jam 5, jam 7 udah nonton tivi di rumah, tidur 8 jam sehari.... siap2 aja lagi tidur, dapat telpon, proses produksi macet gr2 ini atau itu, siap2 tabah ngatur jadwal sampe2 berkhayal seandainya sehari itu lebih dr 24 jam,(NN)

Kalau menurut Purdy Chandra di buku Menjadi Entrepeneur Sukses, ini namanya BODOL alias Berani Optimis Duit Orang Lain..... (NN)

***
"A wise man will make more opportunities than he finds."
-Francis Bacon
***

Tantowiyahya yang di who wants to be milionare itu lho, katanya ditanya oleh bule di eropa sana 'kenapa blm pernah ada yang raih 1M di Indonesia?' - jawabnya tipe orang indonesia umumnya cari aman, jarang yang berani ambil resiko, bukan tipe spekulan - begitu katanya di tv.

Bisa dibilang yang sedikit dicukup-cukupkan asal tidak ngutang, asal tidak capek, asal tidak ada ancaman kenyamanan, asal tetap nyenyak tidur.

Cerita teman kita, ketika temannya serius berbisnis dan satu saat ditinggal teman2nya, ia menjadi stress dan apriori berbicara tentang bisnis - rupanya kekecewaannya sudah sampai menembus tulang ubun2.

Para motivator bisnis bilang 'jangan pernah berhenti, kalau jatuh bangun lagi' begitu selamanya.

Nah, pokok soal kita: 'kenapa orang gagal di bisnis ?

Gagal berarti sudah dijalani, ya toh ?

Di atas dijawab 'banyaklah faktornya', seperti ditipu kawan, kehilangan pendukung, kehilangan backing, salah hitung, kurang persiapan, salah urus, tdk membaca gelagat pasar, tdk mau perubahan pdhal dunia sedang berubah, kurang keterampilan, kalah bersaing, image buruk para pelakunya, layanan jelek, dukungan financial amat lemah, and .... so on.

Kalau mau didaftar, jumlah kambing2 hitam ini mbanyak sekualiii, jadi saking banyaknya, orang bijak bilang: 'gali potensi anda, itulah yang dieksploitasi untuk melahirkan hasil' - dan kalau masih bisa, satu demi satu hilangkan atau minimalkan kambing2 hitammu itu.

Kalau sampai stress, bisa jadi ybs tidak pernah siap utk merugi, bisa jadi karena terlalu mengandalkan pertemanan dan karenanya prosedur formal bisnisnya dianggap bisa diabaikan - padahal ketika muncul masalah maka bahasa hukum akan berbicara dan
membutuhkan fakta2.

'Anda dan saya tak perlu wanti2/persiapan apapun untuk masa yang akan datang jika selamanya segala sesuatunya tidak berubah'.

Jadi betul kata yang sdh mengalami atau menganalisa pengalaman orang lain bhw ibarat perundingan atau perencanaan atau perang, kita perlu mempunyai beberapa skenario atau alternatif yang akan dipilih berdasarkan analisis atas kondisi riil atau prediksi masa datang.

Gitu aja dulu ya obrolannya, saya sendiri bukan pebisnis lho, justru lagi pingin punya bisnis sendiri, habis selama ini hidup ditakari alias nguli di kantoran.
(BR)


kira2 siapa ya yang tidak suka dapat duit banyak?? semua pasti suka. Kira2 siapa yang suka dibentak2 sama atasan?? saya yakin semuanya tidak ada yang mau

kalau kerja di kantoran saya yakin minimal dari kedua hal diatas pasti akan dialami seorang pekerja. Tapi kalau tidak jadi pekerja darimana bisa dapat uang? dan jawaban yang pantas untuk kedua hal diatas memang bisnis..

Tetapi menjadi sayang sekali ketika orientasi pertama kali terjun ke bisnis adalah karena uang. Tidak salah memang, karena memang uang salah satu tujuan mengapa orang terjun ke dunia bisnis.

Ada orang bijak yang mengatakan kepada saya:" uang itu ibarat binatang bertenaga super yang berkaki banyak, bersayap banyak "

artinya apa: percuma saja mengejar uang, karena dia lari dan terbangnya cepat sekali, secepat kilat..

Jadi kalau pingin dapat uang, amati saja perilakunya dan jika sudah mengenalnya mending dibuatkan jebakan saja.. nanti kan datang2 sendiri..

Kembali ke bisnis,kenapa orang gagal ke bisnis,saya yakin karena lupa mengecek persenjataan dan amunisinya selain karena peta pertempuran yang harus ditaruh di kantong saku ternyata ketinggalan di rumah ketika kita sudah berada di medan tempur..
o iya, satu lagi, lupa berdoa kali ya...hehe..akhirnya, pulang2 ya babak belur,dan menjadi trauma. (NN)


Mengutip pernyataan dalam artikel Mengapa Orang Gagal Di Bisnis Network Marketing?
"Beruntunglah mereka yang saat ini masih menjadi pekerja kantoran, tetapi sudah terbuka pikirannya untuk memulai suatu bisnis. Mereka dapat mengandalkan uang gaji bulanan untuk kebutuhan sehari-hari, sementara mereka merintis bisnis mereka"

Saya termasuk mereka yang beruntung speerti itu sepertinya. Saya mulai belajar bisnis ketika masih kerja kantoran 3 tahun yang lalu. Saya lakukan itu karena saya sebenarnya kurang berani mengambil resiko, dan juga belum berani meninggalan kenyamanan sebagai karyawan yang penghasilannya tetap. Tapi memang capek banget karena harus kerja double.

Tapi sisi positifnya, selama masa - masa awal usaha yang lebih banyak gagalnya ketimbang berhasilnya, saya tidak terlalu stress, karena masih ada pendapatan tetap dari kantor untuk biaya rutin rumah tangga dan bersenang-senang.

Selain itu masa ini jadi masa transisi buat saya , buat belajar dari mental " karyawan" menjadi mental " bisnis". Belajar cara "menjual barang" mengatasi rasa malu karena jualannya ditolak dan gak laku.

Setelah saya rasa cukup aman dari segi perkembangan bisnis dan keuangan, baru 1 tahun yang lalu saya berani memutuskan untuk berhenti kerja kantoran (setelah 10 tahun saya kerja kantoran) untuk serius hanya mengurusi bisnis ini.

Terus terang, dibandingkan kerja kantoran yang teratur jam kerjanya, punya bisnis sendiri jauh lebih capek, apalagi untuk usaha UKM seperti saya.

Suami saya sering bilang, saya owner merangkap direktur, merangkap finance director, merangkap purchasing manager, merangkap sales person, merangkap kurir dan merangkap driver juga. Belum lagi harus mengurus karyawan yang sering banyak ijinnya, minta keluar dan juga pinjam uangnya. Kebayang kan begitu banyak yang harus diurusin. Plus waktu kerja yang jauh-jauh lebih panjang dari jam kerja kantoran, walaupun ada juga sisi positifnya, saya lebih fleksibel mengatur waktu kerja.

Sampai sekarang, dibanding gaji saya dulu waktu kerja kantoran, penghasilan saya dari bisnis ini masih lebih kecil. Tapi saya enjoy aja, mungkin karena mentalnya sudah bukan karyawan lagi. Saya sudah gak kepingin kerja kantoran dari jam 7 pagi sampe jam 7 malem lagi (plus macet kan) Saya sih optimis, selama ada komitmen dan rencana kerja yang jelas, semoga dalam 2 tahun kedepan sudah menjadi jauh lebih besar.

Jadi buat rekan2 yang mau punya bisnis sendiri, memulainya sambil kerja kantoran itu cara yang aman. Keuangan keluarga tidak terganggu. Kalau bisnisnya kemudian diperkirakan cukup berhasil tinggal resign kerja, kalau tidak kan bisa kerja kantoran lagi.(JN)


Menurut saya, orang gagal bisnis karena masih ada tempat untuk kembali.(RZ)


Hmmm ... ada satu fenomena menarik tentang wirausaha ini. bahkan mungkin bisa jadi ini dampak negatif dari "wabah" wirausaha, termasuk kuadran-nya cak Kiyosaki :D

dalam dua hal tadi, wirausaha dan kuadran, posisi pegawai, karyawan, pekerja jadi dipandang rendah banget. bahkan bisa membuat seorang karyawan terjun di dunia bisnis bukan karena dia pengen punya duit banyak, tapi cmn karena malu, merasa terhina dengan bekerja hanya sebagai seorang karyawan. ini bisa menjadi negatif, karena di satu sisi saat dia sebagai "pegawai", dia tidak bisa maksimal karena dia merasa terhina melakukan apa yang dia lakukan sekarang, dan disisi lain, yaitu sisi "wirausaha", dia belum siap karena memang dia menerjuni dunia itu diawalnya tidak dalam kerangka berpikir yang tepat.

padahal jika dipikir, apalah artinya pengusaha tanpa adanya karyawan? tidak ada apa2nya. jika semua orang menjadi pengusaha, trus yang ngetik surat jalan tiap hari sapa? yang bikinin kopi, bersihin ruangan? atau yang teratas, apalah artinya bisnis owner tanpa seorang manajer??? none sense

mungkin ada yang pernah denger dengan istilah intrapreneur. seorang intrapreneur dan entrepreneur memiliki sifat yang sama,yaitu kepekaan, inisiatif, kreatif dan risk-taking. namun konteks keduanya berbeda. seorang entrepreneur tidak akan bisa maksimal jika dia bekerja untuk orang lain, sedang intrapreneur sebaliknya. dia akan bisa maksimal jika dia bekerja untuk orang lain.

ada 1 kondisi yang terjadi di Indonesia yang membuat intrapreneur sulit untuk berkembang, yaitu bentuk penghargaan "atasan" terhadap prestasi bawahannya. mereka sebagian besar menganggap bahwa uang sudah sangat menghargai, atau malah yang pulang parah, mereka menganggap bahwa itu sudah kewajiban mereka. yah, masih banyak yang perlu kita benahi di bangsa kita ini ..... (RTI)


Meskipun awalnya aku sempat mau mundur jadi karyawan, karena memang udah jenuh banget 13 tahun jadi karyawan yang begini2 saja.., 8 to 5 + macet + capek!

Tapi untungnya aku dapat 'pencerahan' dari suamiku, katanya.. hasil dari bisnis kecil ini belum kliatan.. dan aku masih bisa nyambi bisnis ini tanpa harus keluar dari pekerjaanku, dsb,dsb... Nyatanya memang bgitu, beruntung banget aku dulu tidak keluar... karena selain masih dapat gaji yang bisa aku andalkan (karena hasil dari bisnis kita belum seberapa), aku juga bisa menggunakan fasilitas kantorku untuk promosi dll.. (paling gak, telpon dan promo di internet bisa gratis..) hehe..

Mungkin, 1-2 tahun lagi baru dipikirkan, apa aku masih mau jadi k aryawan 8to5.. atau jadi karyawan all in di bisnis sendiri.. (HD)

Seringkali para motivator enterpreneur terlalu kebablasan mengagungkan prestasinya di bidang enterpreneur, hingga kadang kurang menghargai prestasi atau posisi di bidang lain. Seolah-olah kesuksesan tertinggi adalah jika sudah bisa menjadi enterpreneur. Wabah ini bisa dibaca dari tulisan2nya Pak Purdie, Kiyosaki, atau
bukunya Eddy "untuk kaya ngapain sekolah..."...

Padahal, jika saja semua orang ternyata berjuang untuk menjadi enterpreneur, maka rusaklah ekosistem kehidupan manusia. Karena seperti kata bang Rhoma Irama, bahwa sudah sunnatullah hidup ini sudah ada tingkatan masing-masing dan berbeda satu sama lain, agar bisa saling membutuhkan.

Yang paling betul adalah memaksimalkan potensi profesinya. Kalau memang berpotensi jadi pengusaha, ya kembangkan kemampuan enterpreneurnya. Kalau potensinya bagus kalau jadi abdi negara, ya silakan jadi pegawai negri atau tentara. Kalau berjiwa pendidik, jadilah ustadz atau guru yang sejati. Dan seterusnya.

Jangan sampai motivasi untuk berwiraswasta malah menurunkan produktivitas, karena yang bankir pengin bisnis, dokter pengin juga bisnis, PNS pengin bisnis (ini kadang bs dimaklumi, penghasilannya terbatas), polisi dan tentara pun ingin bisnis.
Jadinya, yang nggak bisa bisnis maksain bisnis. Akhirnya, malah tatanan etika bisnisnya hancur berantakan.

Contoh, berapa banyak pihak swasta yang kelimpungan karena harus bersaing dengan birokrat yang ikut-ikutan bisnis. Biaya pendidikan jadi tinggi karena guru dan pejabat diknas juga bisnis. Keadilan jadi mahal karena pengacara, jaksa & hakim
juga pengin bisnis. Walah.. berat deh..... kalau semua harus jadi enterpreneur.
(SH)


Sekarang memang merebak orang kantoran berbisnis, Diantara temen kantor saya, ada yang kerja kantoran sbg hanya untuk pengisi waktu, hobi, pergaulan, medical gratis, asuransi, dll, Tapi fokus nafkah mereka di bisnis sampingan yang mereka geluti, Karna hasil bisnis sampingannya jauh lebih besar dari gaji kantorannya, Selain itu, gajinya sampingan bisa dinaikkan semaunya asal jago berbisnis, beda ama gaji
kantorannya,

Saya sudah mencobanya sejak setahun lalu, meskipun rugi terus, tapi keutnungannya jauh lebih banyak, Seperti ada dunia yang beda selain jam 7- 4 sore, silaturhmi nambah, seneng bisa gaji orang, dan berkah...,hidup dengan sedikit masalah, Yang penting jadi terbiasa duit amblas, kan hidup jadi lebih variatif dan berwarna...
(TAF)


Mengutip beberapa tulisan dari artikel Mengapa Orang Gagal Di Bisnis Network Marketing? ada benarnya, "Jadi punya bisnis mahal donk? karena kita tetap harus
punya uang untuk kehidupan sehari-hari? Benar, harus ada harga yang dibayar selain dalam bentuk materi, seperti waktu dan mental yang kuat. Apalah artinya pengorbanan
untuk hidup dibawah garis standard kita dalam beberapa tahun pertama, bila akhirnya kita dapat mencapai kesuksesan sejauh pendapatan yang tak terhingga dan waktu luang yang tak terbatas?"

Dan itulah yang saya alami sekarang ini, disaat saya baru merintis suatu usaha dalam beberapa bulan ini sang istri mempertanyakan hasil dari kesibukan , kegiatan yang hingga tengah malam, yang sering pulang telat dari tempat kerja ( yang kebetulan saat masih sebagai pegawai yang ingin punya usaha sendiri). (NR)


mungkin perlu menyamakan persepsi dulu antara suami dan istri. Bisa dengan diskusi, atau di-cashflow-quadrant-kan dulu, atau perjanjian seperti, sabtu-minggu full buat keluarga, atau pake cara saya, nyari dukungan dr anak (anak saya 5th), kalau lagi jalan bareng, sering saya input ttg indahnya berwirausaha, tentunya dengan bahasa yang dimengertinya.

[sekarang ini saya bingung, mungkinkah saya pertaruhkan gaji saya demi terwujudnya usaha yang mandiri?, disisi lain memang tidak adanya modal, tolong dong rekan2 kalau
ada info usaha yang menggunakan sedikit modal]

pake cara Purdy aja mas, BODOL, alias berani optimis duit orang lain. amannya pake step, kali ya. kalau kami sbg tim bisnis merumuskannya bgn: intinya di cashflow, genjot penjualan, bikin sampe stabil penjualan, baru ekspansi ke BODOL, cari investor atau pinjaman. kalau belum stabil, jgn pinjem dl. Trus mungkin sedikit bocoran biar lancar BODOLnya, menurut salah satu info, investor atau bank acuannya menggelontorkan dana antara lain: laporan keuangan, laporan pajak tahunan, lokasi usaha, dan rekening tabungan bank.

jadi kalau misalkan udah niatan cari investor, bs tuh beberapa direkayasa misalkan perbanyak pajak yang disetorkan, jadi pajak yang kita setorkan lebih banyak dari yang biasanya, gapapa kan korban misalkan 5 juta utk dapat pinjaman 100jt. sederhananya, kalau pajak yang kita setor banyak, berarti bisnis kita sehat.

rekening bank bisa dengan menambah frekuensi lalu lintas uang, bisa pake cara dana pribadi dan bisnis dicampur dl, lbh mantep lagi kalau pelaku bisnis ada beberapa orang, jd ada kesepakatan bhw ini demi kemajuan bisnis.

lokasi usaha. kalau bisnis kita jasa, perbagus interior, atau display, barang yang dipajang diperbanyak. ibarat kata, "kulit" yang indah cerminan dr 'badan" yang sehat kan? kalau bungkusnya bagus, jls terbayang isinya enak? Gak mau dong investor suruh minum anggur terenak kalau pake gayung. Kemasan dan tampilan penting :)

tapi tidak tau ya, info ini termasuk unsur penipuan atau ga, cuma kalau saya perhatiin, memang saat ini malah lebih banyak orang yang "suka dibohongi" daripada "penjelasan sejujur2nya".... (SSS)


ini kiat kan gak fully fiktif, tapi ini dr pengalaman beberapa orang, biar kata presentasi bagus, prospek bisnis dijelaskan dengan mantap, dan bagi hasilnya oke, tapi 4 poin itu jg jd acuan

oiya mgk perlu ditambahi, company profile, portfolio, katalog produk yang bagus, kartunama, kop surat juga jadi pertimbangan....menurut saya, kulit tetapi penting, krn investor atau bank, melihat penampilan bisnis kita, pertamanya jelas dari penampilan luar kita.....(NN)


mungkin itu lah sebabnya kenapa banyakan orang yang jadi pekerja kantoran ketimbang jadi pelaku bisnis...kalau saran ku, bertahan lah, yakinlah kalau bisnis yang sedang anda rintis ini akan membuahkan hasil suatu saat nanti.. tapi tentunya diisi dengan kerja pintar (bukan kerja keras loh hehe) , konsistensi dan semangat yang tinggi..

kakak saya, istrinya kerja kantoran, sementara dia merintis bisnis, dan dari awal sudah dibicarakan bersama kalau selama dia masih merintis bisnis, jadi gaji si istri yang dipakai untuk kebutuhan sehari2

kalau soal kerja banyak tapi belum ada hasil, ya memang begitu itulah suatu 'bisnis'....

saya sendiri awalnya memilih usaha network marketing karena modalnya kecil, bisa di cicil pula.. saya pakai kaca mata kuda, tidak peduli orang ngomong apa soal bisnis m.lm asal bisa saya kerjakan di waktu luang ...

dari bisnis pertama saya, akhirnya kira-kira dalam 6 bulan lah saya dapat pendapatan rutin yang sudah cukup besar.. (waktu itu saya kerja kantoran tuh, jadi uang gaji saya alokasikan untuk rumah tangga) nah terus uang dari bisnis pertama ini, saya pakai untuk modal bisnis kedua... masih network marketing juga..

sekarang bisnis kedua udah bisa ngasih income tetap dan lumayan besar, saya udah bisa resign kantor.. dan next step (lagi ngumpulin modal nya) baru saya mau merambah ke bisnis non network marketing.. pengennya sih buka bengkel nih tapi belum tau juga... (DS)

memang semua itu ada kompensasi-nya. kalau maucepet ada hasil, modal harus gede. kalau mauaman, lama bisa ngerasain hasilnya. kalau maumurah, aman (baca:m.lm) harus pake kacamata kuda :D hehehehe. ketawa sendiri saya denger pendapat mba. tapi saya acungi jempol orang2 yang tekun di m.lm (ga termasuk saya), soalnya bayangkan.
kalau cmn jualan trus ditolak si biasa, tapi kalau jualn aja belum sudah diusir2, dan malah bisa sukses. hehehehe. saya akui saya belum bisa seperti itu :)

sebelumnya saya minta maaf pada beberapa pihak yang merasa tersinggung. saya pernah dengar sebuah pendapat yang beredar diantara etnis tiong-hoa. "kalau kamu usaha pake uang sendiri, kamu itu bodoh". dan saya langsung tanya "kalau usahanya berhasil?"kata dia, tetep bodoh.

orang uangmu sendiri. saya juga pernah denger, akhir tahun 2003, total dana deposito sebesar kurang lebih 90 T, CMIIW, berarti sebesar itu pula dana "nganggur". jadi sebenarnya peluang untuk dapet inves itu lumayan ada. saran saya pribadi , kalau mau mimpi (baca:bisnis) sekalian gede aja, jangan tanggung. karena lebih mudah mendapatkan investasi 40M didanding 1M, susun bisnis plan yang lengkap bin komplit, bagus (bisa tanya sana tanya sini. website-nya juga ada. pernah dibahas disini
kalautidaksalah). trus ikut komunitas2 pengusaha. biasanya mereka ada informasi seputar investasi (RTI)


Sedikit rangkuman dari diskusi diatas, bahwa dalam memulai sebuah bisnis, traditional biz ataupun net.work marketing, m.lm,
ada beberapa hal yangpelru disiapkan, al:

- jeli memilih bisnis
- membuat perencanaan bisnis yang matang
- pemilihan partner yang lebih selektif
- stamina mental yang kuat dan tahan banting
- berani ambil resiko dengan segala pertimbangan dan plan A, plan B, bahkan plan jika harus merugi.
- Para motivator bisnis bilang 'jangan pernah berhenti, kalau jatuh bangun lagi' begitu selamanya.
- menyiapkan beberapa skenario atau alternatif yang akan dipilih berdasarkan analisis atas kondisi riil atau prediksi masa datang.
- perlu ada komitmen dan rencana kerja yang jelas
- perlu menyamakan persepsi dalam satu keluarga (suami istri) bila berwirausaha.

(Nadia Yuniardo)

Labels:


Baca selengkapnya!