Why People Failed In Network Marketing, Part II

***
"You can't change from a negative mindset to a positive mindset without changing from negative talking to positive talking. To do that, you must change the input from negative to positive."
:::.Shad Helmstetter, Ph.D.::::
***

Masih ingat dengan artikel yang ditulis oleh Dini Shanti mengenai Mengapa Orang gagal Di Bisnis Network Marketing?

Ketika artikel ini menjadi topik diskusi di Milis Dunia Wirausaha beberapa waktu yang lalu, ternyata sangat banyak tanggapan yang masuk. Berikut ini kami telah pilih dan rangkum beberapa tanggapan menarik yang masih berkaitan dengan topik Mengapa Orang Gagal Di Bisnis Network Marketing, yang kemudian berkembang menjadi bahasan Kegagalan Bisnis pada umumnya, beberapa usulan dan bahkan contoh pengalaman.

Terima kasih pada para DWers atas sharing pengalamannya.

Semoga Anda juga ikut dapat menarik hikmah dari diskusi seru di Milis Dunia Wirausaha yang berikut ini:

Banyak faktor mengapa dan bagaimana orang berhenti dari bisnis, dan lebih mencari 'keamanan' dan 'kenyamanan'.

Saya punya temen, kisah nyata, dari keluarga pebisnis walopun di kuadran S, semenjak kuliah, sudah memenuhi kebutuhan sendiri dengan berjualan catering, jualan pakaian, dsb., sangat mandiri lah pokoknya,lulus kuliah, langsung terjun di bisnis di Bandung dengan membuat tim, dan karena punya jam terbang paling tinggi, dia yang menangani bisnis tersebut secara langsung. Yang lainnya, menganggap hal itu sambilan, jadi pada
kerja kantoran, karena kuat di nilai modal investasi.

Sementara temen, yang jadi eksekutif bisnis, cuma punya modal tenaga. Pada tahun2 awal sukses, nggak ada masalah. masuk tahun ketiga, berencana ekspansi dengan bantuan pinjaman bank. dan Gagal. Ketika "tim pencari emas tidak menemukan emasnya, dan didera hujan dan badai, maka mereka tunggang langgang menyelamatkan diri masing-masing".

Temen tersebut menanggung hutang sendirian, cara yang aman adalah mencari pekerjaan kantoran, sampai hijrah ke kota lain, untuk melunasi hutang2nya. setelah lunas, akhirnya kembali lagi, menikah, dan menderita business-phobia yang teramat akut. Selalu sinis jika diajak bicara bisnis, teamwork, financial-freedom dsb....

Bagi saya, hikmahnya, saya yakin dengan bisnis yang saya rintis,tapi cerita di atas juga membuat saya selalu mawas diri. Mungkin saja 5 atau 10 tahun yad, saya adalah teman saya itu. (MAA)


terima kasih sharing nya, saya rasa ini bisa jadi masukan bagus untuk kita semua... seperti di tulisan saya, kita belajar dari kesalahan, dan bisa jadi itu kesalahan orang lain.. pengalaman adalah guru yang paling baik...

dari cerita ini bisa kita ambil pelajaran sbb:
- perencanaan bisnis yang matang
- pemilihan partner yang lebih selektif

cerita dari saya:
bapak saya adalah pebisnis sejati dari dia masih muda.. pas saya pertama kali masuk dunia kerja, sayatidakbisa ngerti banget pekerjaan seorang pelaku bisnis. karena buanyak nya hutang..kalau di tanya, pa, kok punya utang banyak banget sih? dia jawabnya:tidak ada pelaku bisnis yang tidak berhutang...wah aku sendiri tidak tau deh bener nya statement itu dalam masa sekarang..

tapi intinya, menurut papa saya, orang bisnis itu tidak harus menggunakan dana pribadi dan harus bisa mengelola hutang bisnisnya dengan baik...apa ini artinya gali lobang tutup lobang?
who knows.. ntar tak tanyain papa deh hehe...(D)

Kalau boleh nambahin, stamina mental yang kuat dan tahan banting, apalage pada saat2 tertentu bisnis dan ini sering, butuh konsentrasi super, apalagi bisnis punya dinamika yang luar biasa. Meminjam kata2 Al Pacino di Heat, business is "Disaster Zone", bukan zona nyaman, pulang jam 5, jam 7 udah nonton tivi di rumah, tidur 8 jam sehari.... siap2 aja lagi tidur, dapat telpon, proses produksi macet gr2 ini atau itu, siap2 tabah ngatur jadwal sampe2 berkhayal seandainya sehari itu lebih dr 24 jam,(NN)

Kalau menurut Purdy Chandra di buku Menjadi Entrepeneur Sukses, ini namanya BODOL alias Berani Optimis Duit Orang Lain..... (NN)

***
"A wise man will make more opportunities than he finds."
-Francis Bacon
***

Tantowiyahya yang di who wants to be milionare itu lho, katanya ditanya oleh bule di eropa sana 'kenapa blm pernah ada yang raih 1M di Indonesia?' - jawabnya tipe orang indonesia umumnya cari aman, jarang yang berani ambil resiko, bukan tipe spekulan - begitu katanya di tv.

Bisa dibilang yang sedikit dicukup-cukupkan asal tidak ngutang, asal tidak capek, asal tidak ada ancaman kenyamanan, asal tetap nyenyak tidur.

Cerita teman kita, ketika temannya serius berbisnis dan satu saat ditinggal teman2nya, ia menjadi stress dan apriori berbicara tentang bisnis - rupanya kekecewaannya sudah sampai menembus tulang ubun2.

Para motivator bisnis bilang 'jangan pernah berhenti, kalau jatuh bangun lagi' begitu selamanya.

Nah, pokok soal kita: 'kenapa orang gagal di bisnis ?

Gagal berarti sudah dijalani, ya toh ?

Di atas dijawab 'banyaklah faktornya', seperti ditipu kawan, kehilangan pendukung, kehilangan backing, salah hitung, kurang persiapan, salah urus, tdk membaca gelagat pasar, tdk mau perubahan pdhal dunia sedang berubah, kurang keterampilan, kalah bersaing, image buruk para pelakunya, layanan jelek, dukungan financial amat lemah, and .... so on.

Kalau mau didaftar, jumlah kambing2 hitam ini mbanyak sekualiii, jadi saking banyaknya, orang bijak bilang: 'gali potensi anda, itulah yang dieksploitasi untuk melahirkan hasil' - dan kalau masih bisa, satu demi satu hilangkan atau minimalkan kambing2 hitammu itu.

Kalau sampai stress, bisa jadi ybs tidak pernah siap utk merugi, bisa jadi karena terlalu mengandalkan pertemanan dan karenanya prosedur formal bisnisnya dianggap bisa diabaikan - padahal ketika muncul masalah maka bahasa hukum akan berbicara dan
membutuhkan fakta2.

'Anda dan saya tak perlu wanti2/persiapan apapun untuk masa yang akan datang jika selamanya segala sesuatunya tidak berubah'.

Jadi betul kata yang sdh mengalami atau menganalisa pengalaman orang lain bhw ibarat perundingan atau perencanaan atau perang, kita perlu mempunyai beberapa skenario atau alternatif yang akan dipilih berdasarkan analisis atas kondisi riil atau prediksi masa datang.

Gitu aja dulu ya obrolannya, saya sendiri bukan pebisnis lho, justru lagi pingin punya bisnis sendiri, habis selama ini hidup ditakari alias nguli di kantoran.
(BR)


kira2 siapa ya yang tidak suka dapat duit banyak?? semua pasti suka. Kira2 siapa yang suka dibentak2 sama atasan?? saya yakin semuanya tidak ada yang mau

kalau kerja di kantoran saya yakin minimal dari kedua hal diatas pasti akan dialami seorang pekerja. Tapi kalau tidak jadi pekerja darimana bisa dapat uang? dan jawaban yang pantas untuk kedua hal diatas memang bisnis..

Tetapi menjadi sayang sekali ketika orientasi pertama kali terjun ke bisnis adalah karena uang. Tidak salah memang, karena memang uang salah satu tujuan mengapa orang terjun ke dunia bisnis.

Ada orang bijak yang mengatakan kepada saya:" uang itu ibarat binatang bertenaga super yang berkaki banyak, bersayap banyak "

artinya apa: percuma saja mengejar uang, karena dia lari dan terbangnya cepat sekali, secepat kilat..

Jadi kalau pingin dapat uang, amati saja perilakunya dan jika sudah mengenalnya mending dibuatkan jebakan saja.. nanti kan datang2 sendiri..

Kembali ke bisnis,kenapa orang gagal ke bisnis,saya yakin karena lupa mengecek persenjataan dan amunisinya selain karena peta pertempuran yang harus ditaruh di kantong saku ternyata ketinggalan di rumah ketika kita sudah berada di medan tempur..
o iya, satu lagi, lupa berdoa kali ya...hehe..akhirnya, pulang2 ya babak belur,dan menjadi trauma. (NN)


Mengutip pernyataan dalam artikel Mengapa Orang Gagal Di Bisnis Network Marketing?
"Beruntunglah mereka yang saat ini masih menjadi pekerja kantoran, tetapi sudah terbuka pikirannya untuk memulai suatu bisnis. Mereka dapat mengandalkan uang gaji bulanan untuk kebutuhan sehari-hari, sementara mereka merintis bisnis mereka"

Saya termasuk mereka yang beruntung speerti itu sepertinya. Saya mulai belajar bisnis ketika masih kerja kantoran 3 tahun yang lalu. Saya lakukan itu karena saya sebenarnya kurang berani mengambil resiko, dan juga belum berani meninggalan kenyamanan sebagai karyawan yang penghasilannya tetap. Tapi memang capek banget karena harus kerja double.

Tapi sisi positifnya, selama masa - masa awal usaha yang lebih banyak gagalnya ketimbang berhasilnya, saya tidak terlalu stress, karena masih ada pendapatan tetap dari kantor untuk biaya rutin rumah tangga dan bersenang-senang.

Selain itu masa ini jadi masa transisi buat saya , buat belajar dari mental " karyawan" menjadi mental " bisnis". Belajar cara "menjual barang" mengatasi rasa malu karena jualannya ditolak dan gak laku.

Setelah saya rasa cukup aman dari segi perkembangan bisnis dan keuangan, baru 1 tahun yang lalu saya berani memutuskan untuk berhenti kerja kantoran (setelah 10 tahun saya kerja kantoran) untuk serius hanya mengurusi bisnis ini.

Terus terang, dibandingkan kerja kantoran yang teratur jam kerjanya, punya bisnis sendiri jauh lebih capek, apalagi untuk usaha UKM seperti saya.

Suami saya sering bilang, saya owner merangkap direktur, merangkap finance director, merangkap purchasing manager, merangkap sales person, merangkap kurir dan merangkap driver juga. Belum lagi harus mengurus karyawan yang sering banyak ijinnya, minta keluar dan juga pinjam uangnya. Kebayang kan begitu banyak yang harus diurusin. Plus waktu kerja yang jauh-jauh lebih panjang dari jam kerja kantoran, walaupun ada juga sisi positifnya, saya lebih fleksibel mengatur waktu kerja.

Sampai sekarang, dibanding gaji saya dulu waktu kerja kantoran, penghasilan saya dari bisnis ini masih lebih kecil. Tapi saya enjoy aja, mungkin karena mentalnya sudah bukan karyawan lagi. Saya sudah gak kepingin kerja kantoran dari jam 7 pagi sampe jam 7 malem lagi (plus macet kan) Saya sih optimis, selama ada komitmen dan rencana kerja yang jelas, semoga dalam 2 tahun kedepan sudah menjadi jauh lebih besar.

Jadi buat rekan2 yang mau punya bisnis sendiri, memulainya sambil kerja kantoran itu cara yang aman. Keuangan keluarga tidak terganggu. Kalau bisnisnya kemudian diperkirakan cukup berhasil tinggal resign kerja, kalau tidak kan bisa kerja kantoran lagi.(JN)


Menurut saya, orang gagal bisnis karena masih ada tempat untuk kembali.(RZ)


Hmmm ... ada satu fenomena menarik tentang wirausaha ini. bahkan mungkin bisa jadi ini dampak negatif dari "wabah" wirausaha, termasuk kuadran-nya cak Kiyosaki :D

dalam dua hal tadi, wirausaha dan kuadran, posisi pegawai, karyawan, pekerja jadi dipandang rendah banget. bahkan bisa membuat seorang karyawan terjun di dunia bisnis bukan karena dia pengen punya duit banyak, tapi cmn karena malu, merasa terhina dengan bekerja hanya sebagai seorang karyawan. ini bisa menjadi negatif, karena di satu sisi saat dia sebagai "pegawai", dia tidak bisa maksimal karena dia merasa terhina melakukan apa yang dia lakukan sekarang, dan disisi lain, yaitu sisi "wirausaha", dia belum siap karena memang dia menerjuni dunia itu diawalnya tidak dalam kerangka berpikir yang tepat.

padahal jika dipikir, apalah artinya pengusaha tanpa adanya karyawan? tidak ada apa2nya. jika semua orang menjadi pengusaha, trus yang ngetik surat jalan tiap hari sapa? yang bikinin kopi, bersihin ruangan? atau yang teratas, apalah artinya bisnis owner tanpa seorang manajer??? none sense

mungkin ada yang pernah denger dengan istilah intrapreneur. seorang intrapreneur dan entrepreneur memiliki sifat yang sama,yaitu kepekaan, inisiatif, kreatif dan risk-taking. namun konteks keduanya berbeda. seorang entrepreneur tidak akan bisa maksimal jika dia bekerja untuk orang lain, sedang intrapreneur sebaliknya. dia akan bisa maksimal jika dia bekerja untuk orang lain.

ada 1 kondisi yang terjadi di Indonesia yang membuat intrapreneur sulit untuk berkembang, yaitu bentuk penghargaan "atasan" terhadap prestasi bawahannya. mereka sebagian besar menganggap bahwa uang sudah sangat menghargai, atau malah yang pulang parah, mereka menganggap bahwa itu sudah kewajiban mereka. yah, masih banyak yang perlu kita benahi di bangsa kita ini ..... (RTI)


Meskipun awalnya aku sempat mau mundur jadi karyawan, karena memang udah jenuh banget 13 tahun jadi karyawan yang begini2 saja.., 8 to 5 + macet + capek!

Tapi untungnya aku dapat 'pencerahan' dari suamiku, katanya.. hasil dari bisnis kecil ini belum kliatan.. dan aku masih bisa nyambi bisnis ini tanpa harus keluar dari pekerjaanku, dsb,dsb... Nyatanya memang bgitu, beruntung banget aku dulu tidak keluar... karena selain masih dapat gaji yang bisa aku andalkan (karena hasil dari bisnis kita belum seberapa), aku juga bisa menggunakan fasilitas kantorku untuk promosi dll.. (paling gak, telpon dan promo di internet bisa gratis..) hehe..

Mungkin, 1-2 tahun lagi baru dipikirkan, apa aku masih mau jadi k aryawan 8to5.. atau jadi karyawan all in di bisnis sendiri.. (HD)

Seringkali para motivator enterpreneur terlalu kebablasan mengagungkan prestasinya di bidang enterpreneur, hingga kadang kurang menghargai prestasi atau posisi di bidang lain. Seolah-olah kesuksesan tertinggi adalah jika sudah bisa menjadi enterpreneur. Wabah ini bisa dibaca dari tulisan2nya Pak Purdie, Kiyosaki, atau
bukunya Eddy "untuk kaya ngapain sekolah..."...

Padahal, jika saja semua orang ternyata berjuang untuk menjadi enterpreneur, maka rusaklah ekosistem kehidupan manusia. Karena seperti kata bang Rhoma Irama, bahwa sudah sunnatullah hidup ini sudah ada tingkatan masing-masing dan berbeda satu sama lain, agar bisa saling membutuhkan.

Yang paling betul adalah memaksimalkan potensi profesinya. Kalau memang berpotensi jadi pengusaha, ya kembangkan kemampuan enterpreneurnya. Kalau potensinya bagus kalau jadi abdi negara, ya silakan jadi pegawai negri atau tentara. Kalau berjiwa pendidik, jadilah ustadz atau guru yang sejati. Dan seterusnya.

Jangan sampai motivasi untuk berwiraswasta malah menurunkan produktivitas, karena yang bankir pengin bisnis, dokter pengin juga bisnis, PNS pengin bisnis (ini kadang bs dimaklumi, penghasilannya terbatas), polisi dan tentara pun ingin bisnis.
Jadinya, yang nggak bisa bisnis maksain bisnis. Akhirnya, malah tatanan etika bisnisnya hancur berantakan.

Contoh, berapa banyak pihak swasta yang kelimpungan karena harus bersaing dengan birokrat yang ikut-ikutan bisnis. Biaya pendidikan jadi tinggi karena guru dan pejabat diknas juga bisnis. Keadilan jadi mahal karena pengacara, jaksa & hakim
juga pengin bisnis. Walah.. berat deh..... kalau semua harus jadi enterpreneur.
(SH)


Sekarang memang merebak orang kantoran berbisnis, Diantara temen kantor saya, ada yang kerja kantoran sbg hanya untuk pengisi waktu, hobi, pergaulan, medical gratis, asuransi, dll, Tapi fokus nafkah mereka di bisnis sampingan yang mereka geluti, Karna hasil bisnis sampingannya jauh lebih besar dari gaji kantorannya, Selain itu, gajinya sampingan bisa dinaikkan semaunya asal jago berbisnis, beda ama gaji
kantorannya,

Saya sudah mencobanya sejak setahun lalu, meskipun rugi terus, tapi keutnungannya jauh lebih banyak, Seperti ada dunia yang beda selain jam 7- 4 sore, silaturhmi nambah, seneng bisa gaji orang, dan berkah...,hidup dengan sedikit masalah, Yang penting jadi terbiasa duit amblas, kan hidup jadi lebih variatif dan berwarna...
(TAF)


Mengutip beberapa tulisan dari artikel Mengapa Orang Gagal Di Bisnis Network Marketing? ada benarnya, "Jadi punya bisnis mahal donk? karena kita tetap harus
punya uang untuk kehidupan sehari-hari? Benar, harus ada harga yang dibayar selain dalam bentuk materi, seperti waktu dan mental yang kuat. Apalah artinya pengorbanan
untuk hidup dibawah garis standard kita dalam beberapa tahun pertama, bila akhirnya kita dapat mencapai kesuksesan sejauh pendapatan yang tak terhingga dan waktu luang yang tak terbatas?"

Dan itulah yang saya alami sekarang ini, disaat saya baru merintis suatu usaha dalam beberapa bulan ini sang istri mempertanyakan hasil dari kesibukan , kegiatan yang hingga tengah malam, yang sering pulang telat dari tempat kerja ( yang kebetulan saat masih sebagai pegawai yang ingin punya usaha sendiri). (NR)


mungkin perlu menyamakan persepsi dulu antara suami dan istri. Bisa dengan diskusi, atau di-cashflow-quadrant-kan dulu, atau perjanjian seperti, sabtu-minggu full buat keluarga, atau pake cara saya, nyari dukungan dr anak (anak saya 5th), kalau lagi jalan bareng, sering saya input ttg indahnya berwirausaha, tentunya dengan bahasa yang dimengertinya.

[sekarang ini saya bingung, mungkinkah saya pertaruhkan gaji saya demi terwujudnya usaha yang mandiri?, disisi lain memang tidak adanya modal, tolong dong rekan2 kalau
ada info usaha yang menggunakan sedikit modal]

pake cara Purdy aja mas, BODOL, alias berani optimis duit orang lain. amannya pake step, kali ya. kalau kami sbg tim bisnis merumuskannya bgn: intinya di cashflow, genjot penjualan, bikin sampe stabil penjualan, baru ekspansi ke BODOL, cari investor atau pinjaman. kalau belum stabil, jgn pinjem dl. Trus mungkin sedikit bocoran biar lancar BODOLnya, menurut salah satu info, investor atau bank acuannya menggelontorkan dana antara lain: laporan keuangan, laporan pajak tahunan, lokasi usaha, dan rekening tabungan bank.

jadi kalau misalkan udah niatan cari investor, bs tuh beberapa direkayasa misalkan perbanyak pajak yang disetorkan, jadi pajak yang kita setorkan lebih banyak dari yang biasanya, gapapa kan korban misalkan 5 juta utk dapat pinjaman 100jt. sederhananya, kalau pajak yang kita setor banyak, berarti bisnis kita sehat.

rekening bank bisa dengan menambah frekuensi lalu lintas uang, bisa pake cara dana pribadi dan bisnis dicampur dl, lbh mantep lagi kalau pelaku bisnis ada beberapa orang, jd ada kesepakatan bhw ini demi kemajuan bisnis.

lokasi usaha. kalau bisnis kita jasa, perbagus interior, atau display, barang yang dipajang diperbanyak. ibarat kata, "kulit" yang indah cerminan dr 'badan" yang sehat kan? kalau bungkusnya bagus, jls terbayang isinya enak? Gak mau dong investor suruh minum anggur terenak kalau pake gayung. Kemasan dan tampilan penting :)

tapi tidak tau ya, info ini termasuk unsur penipuan atau ga, cuma kalau saya perhatiin, memang saat ini malah lebih banyak orang yang "suka dibohongi" daripada "penjelasan sejujur2nya".... (SSS)


ini kiat kan gak fully fiktif, tapi ini dr pengalaman beberapa orang, biar kata presentasi bagus, prospek bisnis dijelaskan dengan mantap, dan bagi hasilnya oke, tapi 4 poin itu jg jd acuan

oiya mgk perlu ditambahi, company profile, portfolio, katalog produk yang bagus, kartunama, kop surat juga jadi pertimbangan....menurut saya, kulit tetapi penting, krn investor atau bank, melihat penampilan bisnis kita, pertamanya jelas dari penampilan luar kita.....(NN)


mungkin itu lah sebabnya kenapa banyakan orang yang jadi pekerja kantoran ketimbang jadi pelaku bisnis...kalau saran ku, bertahan lah, yakinlah kalau bisnis yang sedang anda rintis ini akan membuahkan hasil suatu saat nanti.. tapi tentunya diisi dengan kerja pintar (bukan kerja keras loh hehe) , konsistensi dan semangat yang tinggi..

kakak saya, istrinya kerja kantoran, sementara dia merintis bisnis, dan dari awal sudah dibicarakan bersama kalau selama dia masih merintis bisnis, jadi gaji si istri yang dipakai untuk kebutuhan sehari2

kalau soal kerja banyak tapi belum ada hasil, ya memang begitu itulah suatu 'bisnis'....

saya sendiri awalnya memilih usaha network marketing karena modalnya kecil, bisa di cicil pula.. saya pakai kaca mata kuda, tidak peduli orang ngomong apa soal bisnis m.lm asal bisa saya kerjakan di waktu luang ...

dari bisnis pertama saya, akhirnya kira-kira dalam 6 bulan lah saya dapat pendapatan rutin yang sudah cukup besar.. (waktu itu saya kerja kantoran tuh, jadi uang gaji saya alokasikan untuk rumah tangga) nah terus uang dari bisnis pertama ini, saya pakai untuk modal bisnis kedua... masih network marketing juga..

sekarang bisnis kedua udah bisa ngasih income tetap dan lumayan besar, saya udah bisa resign kantor.. dan next step (lagi ngumpulin modal nya) baru saya mau merambah ke bisnis non network marketing.. pengennya sih buka bengkel nih tapi belum tau juga... (DS)

memang semua itu ada kompensasi-nya. kalau maucepet ada hasil, modal harus gede. kalau mauaman, lama bisa ngerasain hasilnya. kalau maumurah, aman (baca:m.lm) harus pake kacamata kuda :D hehehehe. ketawa sendiri saya denger pendapat mba. tapi saya acungi jempol orang2 yang tekun di m.lm (ga termasuk saya), soalnya bayangkan.
kalau cmn jualan trus ditolak si biasa, tapi kalau jualn aja belum sudah diusir2, dan malah bisa sukses. hehehehe. saya akui saya belum bisa seperti itu :)

sebelumnya saya minta maaf pada beberapa pihak yang merasa tersinggung. saya pernah dengar sebuah pendapat yang beredar diantara etnis tiong-hoa. "kalau kamu usaha pake uang sendiri, kamu itu bodoh". dan saya langsung tanya "kalau usahanya berhasil?"kata dia, tetep bodoh.

orang uangmu sendiri. saya juga pernah denger, akhir tahun 2003, total dana deposito sebesar kurang lebih 90 T, CMIIW, berarti sebesar itu pula dana "nganggur". jadi sebenarnya peluang untuk dapet inves itu lumayan ada. saran saya pribadi , kalau mau mimpi (baca:bisnis) sekalian gede aja, jangan tanggung. karena lebih mudah mendapatkan investasi 40M didanding 1M, susun bisnis plan yang lengkap bin komplit, bagus (bisa tanya sana tanya sini. website-nya juga ada. pernah dibahas disini
kalautidaksalah). trus ikut komunitas2 pengusaha. biasanya mereka ada informasi seputar investasi (RTI)


Sedikit rangkuman dari diskusi diatas, bahwa dalam memulai sebuah bisnis, traditional biz ataupun net.work marketing, m.lm,
ada beberapa hal yangpelru disiapkan, al:

- jeli memilih bisnis
- membuat perencanaan bisnis yang matang
- pemilihan partner yang lebih selektif
- stamina mental yang kuat dan tahan banting
- berani ambil resiko dengan segala pertimbangan dan plan A, plan B, bahkan plan jika harus merugi.
- Para motivator bisnis bilang 'jangan pernah berhenti, kalau jatuh bangun lagi' begitu selamanya.
- menyiapkan beberapa skenario atau alternatif yang akan dipilih berdasarkan analisis atas kondisi riil atau prediksi masa datang.
- perlu ada komitmen dan rencana kerja yang jelas
- perlu menyamakan persepsi dalam satu keluarga (suami istri) bila berwirausaha.

(Nadia Yuniardo)

Labels:


Baca selengkapnya!

Mengapa Orang Gagal di Network Marketing?

Semua jenis bisnis memerlukan waktu untuk sampai pada tahap kesuksesan. Berapakah waktu yang wajar sebelum sampai saatnya kita menentukan kita telah gagal? Apakah 6 bulan? Satu tahun atau mungkin lima tahun?

Tidak ada patokan pasti, berapa waktu yang perlu kita siapkan dalam merintis suatu bisnis. Tiga tahun mungkin adalah waktu yang dianggap cukup untuk sebagian orang. Apa yang bisa kita harapkan dalam tiga tahun tersebut?

Belajar sesuatu membutuhkan waktu. Belajar secara fisik kadang memerlukan waktu lebih lama dari belajar secara mental. Awalnya, mungkin akan susah untuk kita mempersiapkan diri kita untuk memutuskan memulai berbisnis, sekali kita sudah memutuskan, butuh waktu lebih lama lagi untuk belajar menjalankan bisnis itu sendiri.

Dalam memulai suatu bisnis, kita harus memastikan dulu bahwa tujuan kita adalah untuk menjadi seorang pelaku bisnis, perolehan uang banyak dalam waktu singkat tidak bisa dijadikan tujuan awal dalam memulai suatu bisnis, mengapa?

Ada seorang teman saya yang berhenti bekerja kantoran dan mulai mencoba macam-macam bisnis. Dia ingin sekali menjadi seorang pemilik bisnis, dia tidak mau selamanya menjadi karyawan yang tergantung sepenuhnya pada perusahaan tempat dia bekerja. Dia ingin dapat memiliki uang banyak sekaligus waktu luang untuk menikmati uang tersebut.

Baru setelah 6 bulan mencoba menjalankan bisnis, teman saya itu tidak mendapatkan pendapatan seperti yang dia inginkan. Lalu dia mulai mencari lowongan kerja kantoran lagi.

Apa yang salah? Teman saya itu berpatokan pada uang yang didapat. Dia tidak mendapat uang yang dia harapkan dalam waktu 6 bulan, lalu dia memutuskan bahwa dia telah gagal berbisnis. Sikap ini tidak bisa disamakan dengan mereka yang mempunyai alasan kuat untuk menjadi pelaku bisnis.

Jika seseorang sudah memutuskan untuk tidak mau selamanya menjadi karyawan dan sudah mengerti bahwa itu berarti dia harus memulai suatu bisnis sendiri, uang yang dia hasilkan dalam 6 bulan pertama itu tidak akan mempengaruhi dia untuk lalu memutuskan kembali bekerja kantoran.

Jika keinginan untuk menjadi pelaku bisnis lebih kuat dari sekedar mencari uang cepat, maka dia akan tetap bertahan demi membawa bisnis nya kearah kesuksesan.

Makin banyak usia kita, makin sulit kita melupakan hal-hal yang telah kita pelajari sekian lama. Inilah sebabnya teman saya tadi itu lebih memilih untuk kembali bekerja kantoran. Karena dia sudah lama merasakan terjaminnya hidup dengan bekerja kantoran, dan kenyamanan hidup yang diakibatkannya. Sementara dia baru memiliki 6 bulan pengalaman dalam berbisnis. Inilah salah satu alasan kenapa banyak orang akhirnya kembali ke dunia kantor, walaupun mereka tahu, itu tidak baik untuk mereka dalam jangka panjang.

Jadi punya bisnis mahal donk? karena kita tetap harus punya uang untuk kehidupan sehari-hari? Benar, harus ada harga yang dibayar selain dalam bentuk materi, seperti waktu dan mental yang kuat. Apalah artinya pengorbanan untuk hidup dibawah garis standard kita dalam beberapa tahun pertama, bila akhirnya kita dapat mencapai kesuksesan sejauh pendapatan yang tak terhingga dan waktu luang yang tak terbatas?

Beruntunglah mereka yang saat ini masih menjadi pekerja kantoran, tetapi sudah terbuka pikirannya untuk memulai suatu bisnis. Mereka dapat mengandalkan uang gaji bulanan untuk kebutuhan sehari-hari, sementara mereka merintis bisnis mereka. Pada masa-masa ini, pengorbanan waktu yang sangat diperlukan. Pulang kerja, masih harus menjalankan bisnis lagi. Capek memang, tapi bukankah ini jalan yang terbaik?

Tetap bekerja kantoran sambil mulai merintis bisnis adalah cara yang terbaik, hanya bila si pelaku menyadari benar bahwa tujuan utama adalah untuk membesarkan bisnisnya. Sehingga, apapun yang terjadi, dia tidak akan meninggalkan bisnis dan berpasrah diri untuk terus menjadi karyawan seumur hidupnya.

Dalam prosesnya, lalu anda perlu untuk dapat melupakan kenyamanan dan keterjaminan kerja kantoran. Sehingga pikiran anda makin terbuka lebar untuk menerima masuknya diri anda ke dunia bisnis. Sampai pada saatnya, setelah proses yang demikian panjang, anda akan mendapatkan diri anda telah berada pada posisi seseorang yang memiliki jiwa wirausaha.

Hal penting yang harus kita ketahui adalah bahwa dalam proses mencari jiwa wirausaha itu akan terjadi banyak kerugian dan kesalahan didalamnya. Kerugian bukanlah akhir dari segalanya. Kesalahan adalah proses dari suatu pembelajaran. Anda belajar dari kerugian, dari kesalahan yang anda buat. Ini juga bisa diartikan: Anda tidak belajar jika tidak pernah merugi / buat salah.

Kegagalan baru benar-benar bisa disebut kegagalan ketika anda memutuskan untuk berhenti setelah anda menghadapi kerugian anda atau telah melakukan kesalahan dan tidak memperbaikinya. Orang yang berhenti setelah melakukan kesalahan pertama berarti orang tersebut telah gagal untuk belajar.

Kesimpulan dari tulisan di atas adalah satu alasan utama mengapa orang gagal dalam bisnis network marketing. Mereka lebih menginginkan untuk memiliki uang banyak dalam waktu cepat daripada menginginkan dirinya untuk menjadi seorang pelaku bisnis.

Bisnis network marketing merupakan satu jenis bisnis yang memberikan berbagai kemudahan bagi kita. Sistem yang sudah terbentuk, modal yang kecil, dan dapat dijalankan dalam paruh waktu. Apakah anda siap untuk berkomitmen menjalankan bisnis network marketing anda demi membawa diri anda menjadi seorang pelaku bisnis? Tanpa komitmen, tanpa tujuan yang benar, berarti anda tidak memberikan kesempatan pada diri anda untuk menemukan 'jiwa wirausaha'.

Dini Shanti
Owner d'BC Indonesia
www.dBC-Indonesia.com

Labels:


Baca selengkapnya!

Sudahkan Anda Mengerti Dengan Kalimat "Uang Bekerja Untuk Kita"?

Apa yg bisa dikerjakan oleh uang untuk kita?

Bukankah kita hanya berhak menerima sebesar berapa yg kita korbankan?

Dari pertanyaan-pertanyaan simple diatas ternyata menghasilkan banyak jawaban dan pendapat saat diskusi topik ini berlangsung di Milis Dunia Wirausaha beberapa waktu yang lalu.
Ada yang berpendapat bahwa uang bekerja untuk kita adalah "kita meminjamkan atau mengeluarkan uang dan kemudian mendapatkan bunga". Ada pula yang beranggapan, uang bekerja untuk kita adalah berarti memiliki bisnis sendiri, betulkah tanggung jawabnya lebih berat? Untuk menjadi pemilik tentunya harus ada sistem yang 'canggih' begitu pula harus ada hal-hal lain yang difikirkan seperti kesejahteraan karyawan.

Berikut ini adalah pendapat beberapa anggota Milis Dunia Wirausaha menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Hal ini bisa sesimple:
Saat kita menanam modal untuk mempunyai warung misalnya dengan menyewa seorang penjaga warung yang menyetor uang setiap malam atau seminggu sekali atau sebulan sekali. Kita sebagai empunya warung tidak pernah berada di warung tersebut setiap harinya.
Jadi singkat kata, kita tidak perlu bekerja untuk mendapatkan uang masukan hasil penjualan warung tersebut.

Tetapi uang modal yang kita tanamkan di warung tersebut telah bekerja sendiri, telah menghasilkan pendapatan untuk kita. In short, seperti yang dimaksud oleh Kiyosaki adalah kita punya bisnis sendiri.

Yang lain juga berpendapat yang sama, uang bekerja untuk kita bukan pula berarti tanpa pengorbanan, dalam arti, kita mendapatkan sebesar yang kita "korbankan" (baca: modal awal), ditambah dengan jungkir balik, memuutar otak, supaya bisnis kecil yang kita buat dapat berkembang.

Ada pula yang memberi masukan sebagai berikut: Kata kunci biarkan uang bekerja untuk kita adalah pada sistem. Bangun sebuah sistem yang kokoh kemudian tinggalkan dan biarkan sistem itu yang bekerja untuk kita. Contoh nyata dari sebuah sistem yang berhasil adalah ketika sistem tersebut tidak perlu campur tangan si pemiliknya. Si pemilik pergi jalan-jalan enam bulan misalnya meninggalkan perusahaannya tapi perusahaan itu tetap berjalan karena sistemnya sudah berhasil dibangun.

Di dalam buku Cashflow Quadrant -- buku berikutnya dari Kiyosaki setelah Rich Dad Poor Dad -- ada salah satu cerita yang menarik tentang pembangunan sistem:
Pada suatu ketika di sebuah desa terjadi kekeringan air. Air hanya bisa diperoleh di sebuah sungai yang berlokasi cukup jauh. Akhirnya kepala desa memutuskan diadakan proyek pengadaan air. Kemudian muncul dua perusahaan yang bersedia melaksanakan proyek itu. Keesokan harinya, perusahaan A langsung dengan giat bekerja menyediakan air bagi penduduk dengan ember yang setiap hari diangkut dari sungai ke lokasi desa penduduk. Perusahaan B menghilang entah kemana. Perusahan A hanya tertawa melihat perusahaan B hilang entah kemana. "Tak ada saingan," pikirnya. Akhirnya perusahaan A pun berkembang dengan pesat, bahkan anak-anaknya turut serta membantu bisnis pengangkuta air bagi penduduk. Enam bulan kemudian perusahaan B kembali.

Ternyata perusahaan B tidak menghilang begitu saja, namun selama ini perusahaan B merencanakan untuk pembangunan sistem pipa air minum langsung dari sungai ke desa penduduk. Ahli - ahli yang sesuai dengan bidangnya masing-masing berdatangan desa untuk pembangunan pipa tersebut. Air menjadi lancar, lebih murah, lebih bersih. Di akhir cerita Perusahaan A pun akhirnya mati bersaing dengan perusahaan B. Perusahaan B menang karena sistem yang dikelolanya bisa bekerja dengan lebih baik, manajemen lebih tertangani, kualitas pun meningkat.

Kesimpulan dari cerita tersebut:
ada kalanya pembangunan sebuah sistem memerlukan pengorbanan yang tepat, pengorbanan bisa apapun, waktu, uang, bahkan bisa jadi ego kita sendiri, namun hasil akhirnya adalah sistem itu dapat bekerja untuk kita. Tentunya dengan analisis yang tepat sejak awal.

Apabila Anda diberi pertanyaan, akan menjadi perusahaan yang mana, A atau B? Ternyata jawaban pun tidak mutlak..

Ada yang mengambil 'alternatif' sebagai berikut:
Memilih menjadi Perusahaan A dulu dan segera berbenah menjadi perusahaan B. Alias, ambil dulu yang kecil dan terus berbenah untuk membentuk usaha yang memiliki sistem.
Menjadi perusahaan A berarti lebih cepat merasakan hasilnya, walau akhirnya tidak berlangsung lama. Sedangkan untuk menjadi perusahaa B, akan butuh modal jauh lebih besar, untuk hasil yang jauh lebih banyak dan berlangsung jauh lebih lama..

Analogi lainnya:
Jika kita mengejar uang "HOW"-nya adalah kita langsung bekerja ke sumber dan membawa "uang" tersebut ke rumah kita, ini butuh energi dan bersifat terbatas. Tetapi kalau kita mencoba memasang "Pipa-Pipa " dari Sumber "uang" tersebut menuju rumah kita dan tetap menjaga agar pipa-pipa tsb tetap kokoh -- disitulah istilah uang bekerja untuk kita akan terjadi.
Jadi tidak sepenuhnya kita "tidak bekerja" karena tetap kita harus menjaga pipa-pipa tersebut tetap kokoh dan juga harus jeli melihat sumber-sumber "uang" yg baru dan memasang pipa disana menuju rumah kita. Bedanya, dengan memiliki pipa-pipa ini kita lebih menghemat energi kita dan hasilnya juga lebih maksimal dibanding asumsi pertama.

Menurut anggota Milis Dunia Wirausaha, definisi uang disini bisa berupa Cash, Piutang, Intelectual Property, Fixed Asset dll. Sayangnya sebagian dari kita baru memahami bahwa Uang = Cash.

Kita bisa menggunakan uang/asset kita untuk menghasilkan Cash Flow positif (uang bekerja untuk kita) dengan menggunakan Sumber Daya Kita, misalnya:

Broker: menjual informasi tentang suatu produk tidak berdasarkan Single out transaction tetapi multiple of income. Contoh : Future Broker Representative (sales) mendapatkan klien utk perusahaan Broker Future. Dia akan memperoleh income selama si klien bertransaksi di perusahaan Broker tersebut.

Penulis: dia tidak menjual buku tapi menjual intellectual propertynya

Banker/Tengkulak : menjual uang cashnya sebagai Piutang

So, how do we start?
Banyak saran yang dikemukakan oleh para anggota Milis Dunia Wirausaha:
Belajar dari sekolah dalam arti sebenarnya (pendidikan formal). SMP, SMA, kuliah. Di kuliah banyak ilmu - ilmu baru, banyak kenalan, banyak kegiatan mahasiswa yang bisa diikuti. Dari semua ini kita belajar ilmu - ilmu baru yang membantu penyelesaian masalah di masyarakat, dari sekolah kita mendapat jaringan dengan teman - teman, angkatan atas yang sudah senior dan sudah sukses, dosen, dari kegiatan mahasiswa kita mendapat latihan, simulasi sebenarnya untuk membangun bisnis seperti pengelolaan SDM, manajemen waktu, manajemen uang, marketing, dll. Ada benarnya juga orang yang berkata pendidikan yang membebaskan.

Belajar lewat M.LM. M.LM adalah sekolah bisnis yang bagus. Kita belajar dengan teori, praktek dan ada mentor yang selalu membantu kita menyelesaikan masalah. Seorang member M.LM yang sukses bisa dipastikan mau membantu para downlinenya. Kenapa? Karena dengan begitu mereka membantu diri mereka sendiri, semakin banyak downline tentu semakin banyak uang yang mengalir bukan?

Ada pendapat yang menarik yaitu M.LM bukan bisnis yang baik, tapi dari sana anda bisa banyak belajar. ML.M mengajarkan konsep tolong diri anda sendiri dengan menolong orang lain melalui :
Jaringan yang sudah terbangun Sistem yang sudah terbukti sukses Edukasi pendidikan bisnis lewat pelatihan - pelatihan Melatih mental bisnis

Orang yang sudah sukses di M.LM biasanya lebih mudah melaksanakan bisnis. Buat yang masih ingin belajar banyak tentang bisnis, M.LM bisa menjadi salah satu alternatif.

Kerja keras dengan step-step seperti perusahaan A. Di Indonesia banyak perusahaan - perusahaan lokal yang eksis berhasil menjadi ciri khas suatu daerah. Perusahana pembuat oleh-oleh misalnya. Tapi pernah kah terfikir berapa puluh tahun yang mereka butuhkan untuk membangun sebuah sistem itu? Majalah SWA, pernah membahas hal ini dimana di Indonesia banyak yang seperti perusahaan A karena bisa dibilang lebih mudah diikuti dan tidak perlu berpikir terlalu banyak.

Tapi kata kunci dari semua ini adalah selalu belajar dan terus belajar. How to start ? Belajar dan terus belajar.

Terus memperkaya diri dengan ilmu tentunya sambil terus melek financial. Sehingga,
pada suatu saat kesempatan datang, kita menyadarinya dan take the best of it. Terkadang kesempatan usaha itu berseliweran di depan mata tapi kalau kita tidak terlatih untuk melihatnya ya, kita cenderung diam dan merasa tidak punya kesempatan bisnis.
Seperti istilah Kiyosaki; sooner or later anda akan mendapatkan jalan untuk keluar dari perlombaan tikus ini...

Jadi sekali lagi, kata kunci dari semua ini adalah selalu belajar dan terus belajar. How to start ? Belajar dan terus belajar.

Labels:


Baca selengkapnya!

PIRAMIDA - Argumentasi Sistem yang Tidak Fair

Mengapa kami mencoba menulis tentang Sistem Piramida dalam Bisnis?

"Buying Time With Fina.ncial Fre.edom" Salah satu peluang untuk mendapatkan hal tersebut adalah dengan mengikuti Bisnis dengan Skema Network Marketing. Di Indonesia sudah mulai banyak orang ingin memiliki penghasilan yang besar dan memiliki waktu yang cukup untuk menikmati penghasilan tersebut. Makin banyak orang yang ingin memiliki bisnis sendiri. Lalu sistem Network Marketing menjadi salah satu pilihan mereka.

Setelah melakukan riset di internet, banyak sekali artikel yang melarang kita untuk masuk ke dalam skema bisnis piramida. Tapi sebenarnya apa itu bisnis Piramida?

Skema Piramida disebut sebagai suatu sistem yang tidak sah dimana banyak orang yang berada pada lapisan terbawah membayar sejumlah uang kepada sejumlah orang yang berada di lapisan piramida teratas. Setiap anggota baru membeli peluang untuk naik ke lapisan teratas dan mendapat keuntungan dari orang lain yang bergabung kemudian.

Lalu bagaimana beda skema piramida dengan skema Network Marketing?

Kalau dilihat dari luarnya saja, sebenernya sama-sama memiliki struktur piramida kan? Karena dalam Network Marketing pun kita dapat dibilang sukses bila kita bisa membangun jaringan sebesar-besarnya.Tapi mengapa dalam bisnis Network Marketing struktur piramida tersebut menjadi sah?Jawaban kunci untuk pertanyaan ini adalah NILAI.

Dalam bisnis M.LM yang sah ada NILAI yang bergerak ke atas dan ke bawah. Seorang yang baru bergabung akan menyetorkan sejumlah untuk UNTUK mendapatkan sejumlah barang. Bisnis yang sah akan menekankan dalam pergerakan NILAI ini.Dalam skema piramida yang tidak sah, tidak ada NILAI yang bergerak ke bawah. Seandainya pun ada, itu hanya sebagai kedok saja.

Contoh aturan skema piramida yang tidak sah:
1.Biaya Pendaftaran keanggotaan berikut paket produk, sangat mahal;
2.Harga dari produk-produknya tidak masuk akal;
3.Sistim dibuat menyerupai Penjualan Berjenjang;
4.Imbalan diberikan berdasarkan tersusunnya jaringan berbentuk piramida dengan jumlah orang dalam format tertentu, fokus pada rekruting, bukan penjualan;
5.Anggota dibatasi untuk memiliki jumlah downline langsung yang telah ditentukan,dan anggota diberi kebebasan untuk memiliki lebih dari satu posisi;
6.Masa keanggotaan kadangkala berlangsung sampai format tertentu;
7.Program pemasaran skema piramida sangat rumit dan susah dipelajari;
8.Tidak ada pelatihan khusus untuk anggotanya yang membahas tuntas mengenai produk;

Jadi bisa kita lihat dalam contoh di atas, kalau dalam skema piramida yang tidak sah, tidak ada NILAI yang bergerak ke bawah. Ini berarti tidak ada produk sah yang dijual. Sistem ini hanya 'mempergunakan' struktur piramida untuk memperoleh uang dari mereka yang bergabung belakangan.

Sebagai pelaku bisnis M.LM, kami sering kali mendapatkan pertanyaan: Apakah bisnis anda ini termasuk sistem piramida? Bila kami tanya kembali: Menurut anda apa itu bisnis piramida?

Kebanyakan dari mereka menjawab dengan tidak pasti, seperti: Ya.. katanya sih bisnis piramida itu bisnis yang tidak sah (illegal) dan unsur penipuannya.Hal-hal seperti ini yang lalu mencoreng nama bisnis Network Marketing yang sah. Karena ketidak tahuan mereka atas apa sebenarnya bisnis piramida itu.

Coba sekarang kita lihat sebuah kantor pada umumnya. Di posisi paling atas ada seorang Chief Executive Officer (Owner), lalu ada Dewan Direksi, kemudian beberapa Manajer, dan lalu staff biasa. Paling banyak orang berada dalam level staff biasa. Siapa yang paling banyak melakukan pekerjaan? Staff biasa jawabannya. Siapa yang paling banyak mendapatkan uang? Presiden Direktur tentunya. Contoh : Bandingkan penghasilan yang di peroleh Bill Gates dengan seorang staff biasa di Microsoft. Apakah kantor ini menganut sistem piramida? Apakah orang yang melamar kerja di kantor tersebut akan bertanya: Apakah kantor anda ini termasuk sistem piramida?Strukturnya memang piramida, tetapi ada NILAI yang bergerak. Ada "produk" yang dihasilkan oleh para Staff, ini lah nilai yang bergerak ke atas, dan para staff mendapatkan upahnya, inilah nilai yang bergerak ke bawah.

Sekarang coba kita bandingkan dengan bisnis Network Marketing yang menganut struktur piramida yang sah. Dalam bisnis piramida yang sah, orang2 yang berada di level bawah adalah orang yang berada di level atas dari piramida mereka, dan apabila mereka pandai dalam menjalankan strategi marketingnya, mereka akan menerima pendapatan lebih banyak di bandingkan orang2 yang berada di level atas mereka. Mereka yang melakukan pekerjaan lebih baik akan mendapat pendapatan lebih banyak.

Dengan kata lain apa bila anda tidak melakukan penjualan, dan tidak membantu downline anda untuk melakukan penjualan, anda tidak akan menerima apa-apa. Jadi, dalam bisnis yang menganut struktur piramida yang sah, dimanapun posisi anda, anda akan memiliki kesempatan yang sama dengan anggota lainnya, untuk menjadi "CEO (Owner)" dari bisnis anda. Lebih adil bukan?

Ali Indradjit
The Future Belong to Those Have Seen before it became Obvious
www.bisnisviainternet.info

Labels:


Baca selengkapnya!